Pemanfaatan Media WhatsApp Grouping dalam Pembelajaran Bahasa Inggris
RADARSEMARANG.COM
– SIAPA tidak tahu WhatsApp atau WA? Media sosial ini sudah sangat popular dan
familiar bagi anak-anak maupun orang tua. Juag semua kalangan: pedagang,
petani, pejabat, juga pendidik.
WhatsApp
merupakan aplikasi pesan instan untuk smartphone. Dilihat dari fungsinya,
WhatsApp hampir sama dengan aplikasi SMS yang biasa digunakan di ponsel lama.
Hanya saja, WhatsApp tidak menggunakan pulsa, melainkan data internet. Dengan
aplikasi ini, kita tidak perlu khawatir soal panjang pendeknya karakter. Selama
data internet mencukupi, tidak ada batasannya. Meski aplikasi pesan instan, toh
WA memiliki keunikan dan kesederhanaan dengan sistem pengenalan kontak,
verifikasi, dan pengiriman pesan tetap dilakukan melalui nomor telepon yang
sudah didaftarkan terlebih dulu.
Karenanya,
setiap orang, bisa dengan mudah memiliki akun WA. Dengan banyaknya pengguna
WA—termasuk para siswa dan pendidik—maka metode, teknik pembelajaran, bisa
bertambah. Sehingga berpengaruh positif pada capaian hasil belajar. Sepanjang
pengalaman penulis, banyak sekali manfaat positif dari pemanfaatan WhatsApp
Grouping (WAG). Lebih khusus di sini, kami batasi dalam pembelajaran bahasa
Inggris.
Pembelajaran
bahasa Inggris di kelas, masih sering terpusat pada guru. Siswa lebih sering
diam jika ditanya. Entah karena takut salah, malu, canggung, grogi, dan
sebagainya. Berbeda dalam grup WhatsApp, guru dan siswa bisa bertanya jawab
atau berdiskusi dengan lebih rileks.
Guru dengan
media ini, bisa berkreasi dalam memberikan ringkasan materi reading, grammar,
tambahan latihan (drilling), untuk listening melalui audio yang dikirim,
pengayaan speaking dengan video pendek, dan sebagainya. Pun, siswa dengan mudah
bisa mengirim balik hasil pekerjaan, baik berupa komentar langsung di chat,
gambar/foto, caption, rekaman dialog, video dengan membuat vlog dan sebagainya.
Berkas (file) tugas dalam bentuk document untuk tugas writing, yang semuanya
dalam bentuk soft file.
Dengan demikian,
rasa canggung, pasif, dan sebagainya untuk berekspresi memberikan yang hasil
terbaik atas tugasnya, bisa teratasi melalui media ini.
Terkait bentuk
hasil tugasnya soft file, maka metode pembelajaran ini memiliki nilai lebih
lagi. Yaitu, metode yang ramah lingkungan karena penggunaan kertas untuk
mencetak atau menulis hasil pekerjaan siswa banyak berkurang. Siswa tidak perlu
mencetak tugasnya dan membeli kertas. Guru pun tidak repot membawa tugas siswa
yang banyak dalam bentuk hardfile.
Guru harus
kreatif mengikuti perkembangan informasi dan teknologi. Suwarsih (2013) dalam
bukunya Metodologi Pengajaran Bahasa tentang Kurikulum 2013 mengingatkan para
guru bahasa Inggris, untuk kreatif mencari berbagai cara guna membantu siswa.
Tujuannya, untuk menguatkan ingatan mereka terhadap kata sasaran dengan
latihan-latihan terus secara periodik kata-kata baru dengan media yang menarik.
Salah satu aplikasi yang digunakan penulis berdasar pengalaman adalah
penggunaan aplikasi WAG dalam memperkaya pengalaman belajar bahasa Inggris yang
bisa mengakomodasi ke empat keterampilan yang dipelajari tanpa batasan ruang
waktu.
Kelas maya
dengan aplikasi WAG tanpa batas ruang waktu ini, bisa menjadi salah satu solusi
guru yang masih kekurangan waktu dalam penyampaian materi di dalam kelas (face
to face). Hal ini terkait jam pelajaran bahasa Inggris—yang walaupun merupakan
mapel wajib dan diujikan secara nasional— namun hanya dua jam pelajaran setiap
minggu.
Dalam waktu 90
menit, guru dituntut bisa memberikan empat keterampilan secara terpadu. Yaitu:
membaca, mendengarkan, menulis dan berbicara. Sungguh waktu yang sangat sempit
dibandingkan dengan alokasi waktu dalam Kurikulum 2006 yang 4 jam pelajaran
untuk tingkat SMA. Ada apa dengan K-13 dan Bahasa Inggris? Salah satu
jawabannya, karena guru bahasa ini kreatif.
Dengan
pembelajaran online di WAG, bukan berarti kita mengabaikan pembelajaran kelas
nyata atau tatap muka. Kelas ini tetap penting dan dibutuhkan, sehingga guru
mengenal siswanya secara langsung berinteraksi, bersosialisasi dan memberikan
konfirmasi. Di kelas nyata (offline), guru-siswa mengevaluasi bersama hal-hal
penting untuk kemajuan pembelajaran. Di kelas maya (online) guru dan siswa
saling memperkaya materi belajar yang lebih detail, dengan waktu dan suasananya
yang lebih rileks sambal belajar bermedsos yang bijak, santun nan cerdas.
Semoga bermanfaat. (*/isk)
Posted By Puput
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.